16 Agustus 2016 23:43 wib
  • pendidikan

Menuju Kemenangan

Oleh A Rasyid

 

Gema Azan disyariatkan tepatnya pada tahun kedua Hijriah. Seperti dikisahkan bahwa, pada suatu hari Nabi Muhammad mengumpulkan para sahabat untuk memusyawarahkan bagaimana cara memberitahu masuknya waktu salat dam mengajak orang ramai agar berkumpul ke masjid untuk melakukan salat berjamaah. Ada beberapa usulan seperti mengusulkan supaya dikibarkan bendera sebagai tanda waktu salat telah masuk. Apabila benderanya telah berkibar, hendaklah orang yang melihatnya memberitahu kepada umum. Ada juga yang mengusulkan supaya ditiup trompet seperti yang biasa dilakukan oleh pemeluk agama Yahudi.

Ada pula mengusulkan supaya dibunyikan lonceng seperti yang lazim dilakukan orang-orang Nasrani. Ada seorang sahabat yang menyarankan, manakala waktu salat tiba, maka segera dinyalakan api pada tempat yang tinggi agar orang-orang bisa dengan mudah melihat ke tempat itu, atau setidaknya, asapnya bisa dilihat orang walaupun berada di tempat yang jauh. Bagi melihat api itu, hendaklah datang menghadiri salat berjamaah.Semua usulan yang diajukan ditolak oleh Nabi. Tetapi menukar dengan lafal  assalatu jami’ah (marilah salat berjamaah). Lantas, ada usul dari Umar bin Khattab jika ditunjuk seseorang yang bertindak sebagai pemanggil kaum Muslim untuk salat pada setiap masuknya waktu salat. Kemudian saran ini bisa diterima oleh semua orang dan Nabi Muhammad juga menyetujuinya.

Abu Daud mengisahkan bahwa Abdullah bin Abbas berkata sebagai berikut: "Ketika cara memanggil kaum muslimin untuk salat dimusyawarahkan, suatu malam dalam tidurku aku bermimpi. Aku melihat ada seseorang sedang menenteng sebuah lonceng. Aku dekati orang itu dan bertanya kepadanya, "apakah ia bermaksud akan menjual lonceng itu? Jika memang begitu, aku memintanya untuk menjual kepadaku saja". Orang tersebut justru bertanya," Untuk apa?" Aku menjawabnya, "Bahwa dengan membunyikan lonceng itu, kami dapat memanggil kaum muslim untuk menunaikan salat". Orang itu berkata lagi, "Maukah kamu kuajari cara yang lebih baik? Dan aku menjawab, "ya" dan dia berkata lagi dengan suara yang amat lantang: Allahu Akbar Allahu Akbar, Asyhadu alla ilaha illallah, Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, Hayya 'alash sholah (2 kali), Hayya 'alal falah (2 kali), Allahu Akbar Allahu Akbar, La ilaha illallah.

Ketika esoknya aku bangun, aku menemui Nabi Muhammad dan menceritakan perihal mimpi itu kepadanya, kemudian Nabi Muhammad berkata, "Itu mimpi yang sebetulnya nyata. Berdirilah disamping Bilal dan ajarilah dia bagaimana mengucapkan kalimat itu. Dia harus mengumandangkan adzan seperti itu dan dia memiliki suara yang amat lantang." Lalu akupun melakukan hal itu bersama Bilal." Rupanya, mimpi serupa dialami pula oleh Umar.

Suara azan terkadang dipandang oleh sebagian orang sebagai suara yang membisingkan atau mengganggu aktivitas dan konsentrasi hidupnya, karena suara azan yang dikumandangkan di masjid-masjid dinilai terlalu keras. Sehingga banyak orang menginginkan suara azan di masjid-masjid volumenya dikurangi, bahkan ada juga yang berharap agar dihilangkan saja.

            Sesungguhnya suara azan secara hahikatnya menurut pemahaman Islam adalah seruan Allah kepada umatnya agar mengabdi atau menyembah kepadanya melalui pendekatan alat lima waktu sehari semalam. Suara azan juga mengandung makna setelah mendirikan salat akan  meraih kemenangan.

Hayya ‘alal falâh adalah salah satu kalimat di dalam adzan, artinya adalah : Marilah menuju keberuntungan. Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Hayya ‘alal falâh artinya adalah : Marilah menuju keberuntungan dan keselamatan. Ada yang mengatakan : Marilah menuju kekekalan. Maksudnya, datanglah untuk melakukan sebab kekekalan di dalam surga”. [Syarah Shahîh Muslim, hadits no. 379]

Dengan demikian ketika seorang muadzin menyerukan hayya ‘alal falâh, maka sesungguhnya dia mengajak manusia menuju surga, karena keberuntungan, kemenangan, dan keselamatan hakiki adalah masuk surga dan selamat dari neraka. Sehingga sepantasnya bagi orang beriman menyambutnya dengan mendatangi masjid untuk shalat berjama’ah. Marilah kita perhatikan hadits di bawah ini:

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata:Seorang lelaki buta datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dia berkata: “Wahai Rasulullâh, sesungguhnya aku tidak memiliki penuntun yang menuntunku ke masjid”, dia meminta keringanan kepada Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk shalat di rumahnya. Maka beliau n memberikan keringanan kepadanya. Ketika dia telah berpaling, beliau memanggilnya lalu bertanya, “Apakah engkau mendengar adzan shalat”, dia menjawab, ” Ya”. Beliau bersabda, “Kalau begitu maka sambutlah“. [HR Muslim, no:653]

Siapa sesungguhnya manusia yang tidak senang akan dikumandangkannya suara azan tersebut, apakah mereka sosok yang memiliki keimanan yang kuat kepada Tuhannya, atau orang yang lemah imannya, atau mereka yang sudah berada dalam kemunafikan, atau juga yang masih berada dalam kekafiran.

Bagi orang-orang yang beriman kepada Rabbinya, tentu saja dengan senang hati menyahuti panggilan-panggilan azan itu, disamping juga mereka dapat mengukur batas waktu untuk menunaikan salat lima waktu sehari semalam. Artinya mereka merasa tersadarkan dengan suara azan ketika sehari-hari sibuk dengan aktivitas atau juga yang nyenyak dengan tidurnya. Bahkan mereka merasa kesal jika seketika.

Peristiwa yang terjadi di Tanjungbalai beberapa hari lalu, karena kebencian dengan gema azan dan kaset mengaji di masjid sehingga menimbulkan bentrok SARA yang ditandai dengan pembakaran vihara dan kalenteng harus dapat menjadi pembelajaran, sehingga kasus seperti ini tidak terulang baik dalam bentuk yang sama maupun dalam bentuk kasus lainnya.

Tentu saja semua pihak berharap peristiwa yang terjadi di Tanjungbalai tidak terulang di daerah-daerah lain, dan kasusnya dapat diselesaikan dengan baik dan adil, tidak merugikan sebelah pihak. Jalan yang ditempuh menurut hemat kami adalah dengan jalan damai, bukan terus terus menangkap para pelaku pembakaran vihara. Jika ini dilakukan dikawatirkan akan menimbulkan rasa benci dan dendam di masyarakat. Kasus ini dijadikan pelajaran berharga, dengan tidak membuang-buang energi, tetapi lebih arif menggunakan energi yang ada untuk membangun kebersamaan, dan membangun Tanjungbalai menjadi daerah yang lebih maju, dengan kehidupan masyarakat yang lebih harmonis.

Mermang hampir semua kaum kafir dan sebagian juga umat Islam yang tidak senang mendengar gema suara azan sesungguhnya dapat dimaklumi, disebabkan boleh jadi karena lemahnya keimanan dan tidak memahami secara benar tentang seruan azan tersebut. Jika mereka memahami dengan baik seruan azan tersebut tentu mereka merasa bersyukur karena diberi peringatan setiap waku untuk meraih kemenangan