MEDAN – Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sumatera Utara Medan terus memperkuat peran akademisnya dalam isu-isu strategis nasional. Sekretaris Prodi PMI, Ilham Mirzaya Putra, M.Si, hadir langsung sebagai peserta dalam Workshop Penanggulangan Bencana bertajuk “Peran Multipihak dalam Mendukung Pemulihan Pascabencana di Sumatera” yang diselenggarakan oleh DPD Jagatara Sumatera Utara di Gedung Rektor Universitas Sumatera Utara (USU), Rabu (28/1/2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Jagatara dalam mendukung Asta Cita Presiden RI Prabowo Subianto, khususnya pada penguatan ketahanan pangan, energi, dan kelestarian lingkungan sebagai fondasi utama pemulihan pascabencana.
Restorasi Sosial dan Ekosistem
Dalam workshop tersebut, para narasumber seperti Prof. Heru Santosa dan Prof. Abdul Rauf menekankan bahwa pemulihan tidak boleh dilakukan secara parsial. Fokus utama mencakup rehabilitasi daerah aliran sungai (DAS), dukungan psikososial bagi kelompok rentan, hingga penerapan Nature-Based Solutions (NbS) atau solusi berbasis alam untuk mengurangi risiko bencana masa depan.
Menanggapi materi tersebut, Sekretaris Prodi PMI, Ilham Mirzaya Putra, M.Si, menegaskan pentingnya keterlibatan disiplin ilmu pengembangan masyarakat dalam skema ini.
“Pemulihan pascabencana bukan sekadar membangun kembali infrastruktur yang rusak, melainkan membangun kembali ketahanan sosial dan ekonomi masyarakat. Peran multipihak harus menempatkan masyarakat bukan hanya sebagai objek bantuan, tetapi sebagai aktor utama dalam restorasi ekosistem dan ketahanan pangan secara mandiri,” ujar Ilham di sela-sela kegiatan.
Sinergi Akademisi dan Pemerintah
Kehadiran Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan RI, Drs. Agus Andrianto, S.H., M.H, selaku Ketua Dewan Pembina Jagatara, menambah bobot strategis workshop ini. Sinergi antara pemerintah pusat, organisasi seperti Jagatara, dan institusi pendidikan diharapkan dapat menciptakan sistem mitigasi yang lebih tangguh di Sumatera Utara.
Bagi Prodi PMI, partisipasi ini menjadi pijakan penting untuk mengintegrasikan isu kebencanaan ke dalam kurikulum pemberdayaan, sehingga mahasiswa dan alumni nantinya mampu menjadi fasilitator andal di tengah masyarakat yang terdampak bencana.
