Balikpapan-Perkumpulan Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (P2MI) menyelenggarakan Musyawarah Nasional (Munas) pada 6 Juni 2026 di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Pelaksanaan Munas P2MI kali ini bersamaan dengan acara Forum Dekanat Dakwah dan Komunikasi (FORDAKOM) yang dihadiri para Dekan, Wakil Dekan, dan Guru Besar Fakultas Dakwah dan Komunikasi seluruh Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTKIN) di Indonesia.
Adapun hasil Munas P2MI tahun ini, menetapkan Prof. Dr. Pajar Hatma Indra Jaya, M.Si (Wakil Dekan I Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) sebagai Ketua P2MI periode 2026-2031. Kemudia juga memilih Dr. H. Rohmanur Aziz, S.Sos.I., M.Ag (Ketua Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung) sebagai sekretaris dan Dr. Hermawati, M.Si (Ketua Lembaga Penjaminan Mutu UIN Imam Bonjol Padang) sebagai Bendahara P2MI periode 2026-2031. Pengurus inti P2MI ini terpilih melalui musyawarah dan mufakat serta melalui mekanisme pemilihan yang demokratis.
Terpilihnya nahkoda baru P2MI diharapkan dapat membawa P2MI yang lebih progresif dalam memperkuat pengembangan keilmuan, meningkatkan kolaborasi antar program studi, dan memperluan kontribusi P2MI dalam menjawab tantangan bangsa ditengah derasnya arus globalisasi serta dominasi hegemoni barat.
Selain menghasilkan kepemimpinan baru, Munas P2MI juga membahas penguatan lulusan PMI untuk memperoleh pengakuan yang lebih luas dalam ekositem profesi pekerja sosial (Peksos). Terkait perihal ini, sebelumnya sudah pernah dilakukan diskusi dengan Ketua Umum Independen Pekerja Sosial Profesional Indonesia (IPSPI), Dr. Pujiono. Pertemuan tersebut membahas peluang kerja sama strategis antara Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial (IKS) dan Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI), khususnya terkait pengakuan kompetensi lulusan sebagai pekerja sosial profesional. Dalam diskusi tersebut, Ketua Umum IPSPI menyampaikan komitmennya untuk membuka ruang kolaborasi dan saling mengakomodasi antara kedua rumpun keilmuan tersebut.
Pada prinsipnya, IPSPI menyatakan persetujuannya agar lulusan PMI memperoleh pengakuan yang lebih luas dalam ekosistem profesi pekerja sosial. Namun demikian, terdapat beberapa catatan yang perlu diperhatikan, terutama terkait penguatan dan penyesuaian kurikulum Program Studi PMI agar lebih selaras dengan standar kompetensi yang dibutuhkan dalam profesi pekerjaan sosial.
Menanggapi hal tersebut, usulan penguatan kurikulum tersebut disambut positif dan dipandang sebagai peluang besar bagi pengembangan Program Studi PMI di masa depan. Hasil diskusi ini akan dibawa dan dibahas lebih lanjut dalam forum Musyawarah Nasional P2MI sebagai bahan pertimbangan bersama seluruh ketua program studi PMI se-Indonesia.
Munas P2MI tahun 2026 menjadi momentum penting bagi keberlanjutan transformasi organisasi. Selain sebagai forum pergantian kepemimpinan, kegiatan ini juga menjadi ruang konsolidasi nasional bagi seluruh Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam untuk menyusun agenda strategis pengembangan keilmuan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta penguatan tata kelola kelembagaan menuju standar mutu yang lebih unggul.